Berita-berita feature terasa lebih seperti cerita pendek non-fiksi daripada sekadar "hard news". Dalam feature, kebaruan dari peristiwa adalah bukan hal utama. Bahkan, sebagian besar feature malah tidak mengenal waktu. Kedahsyatan dari feature adalah kemampuannya untuk memperkuat fokus suatu isu melalui cara penulisan yang baik, berhiaskan ironi, humor, detail, dan lain-lain. Feature juga memberi informasi, namun dengan format yang menghibur, menyenangkan, memikat, menyentuh emosi dan sejenisnya. Feature juga mengangkat isu dengan menggambarkan orang-orang, tempat-tempat, atau ide-ide yang membentuk isu itu.
Ada sejumlah perbedaan antara news dan feature. Namun, Sebagaimana ditekankan Bruce Itule & Douglas Anderson, dalam News Writing and Reporting for Today’s Media, 3rd. Edition, New York: McGraw-Hill, 1994, tidak ada garis pembedaan sangat tegas, terutama dalam media kontemporer sekarang ini. Banyak berita yang “difiturkan”.
Hasil pertandingan/perlombaan di Olimpiade sangat mungkin disampaikan sebagai hard news. Misalnya, “Anne Montmigny, dari Kanada, merebut medali emas kedua dalam renang indah.” Dalam media kontemporer, bisa jadi hard news itu disampaikan seperti feature. Misalnya; “Meski terbiasa berenang di sungai yang mengalir di belakang rumahnya, Anne Montmigny tak pernah bermimpi tampil di pentas dunia renang indah Olimpiade.” Upaya untuk memfiturkan news itu untuk mengakomodasi sisi manusiawi dari suatu berita. Maka, banyak perusahaan media yang memadukan itu untuk meraih audiens lebih luas.
Belakangan ini, media menggunakan banyak faktor untuk menentukan event-event apa yang akan diberitakan, antara lain;
* waktu
* keterdekatan
* dampak
* kepentingan tertentu audiens
* persaingan dengan media lain
* tujuan editorial
* hingga, pengaruh pemasang iklan.
Semua faktor ini memberikan 'tekanan' pada media untuk memberi audiens baik news maupun features. Feature bisa berdiri sendiri, atau berdampingan dengan news utama. Jika berdampingan, feature bisa memberi audiens informasi tambahan atas topik yang sama.
Ambil contoh; Saat ada kapal ferry tenggelam di perairan Yunani, itu harus disampaikan dalam bentuk hard news. Jika ada kabar selebriti Indonesia lolos dari bencana itu karena saat berwisata ia kecopetan tiket ferry itu, maka ini bisa dijadikan feature menarik.
Features tidak dimaksudkan untuk menyampaikan berita saat itu juga. Feature tetap berisi elemen-elemen berita, namun fungsi utamanya adalah memanusiakan, menambah warna, mendidik, menghibur menjelaskan, dan lain-lain. Feature lebih sering menjadi 'penjelasan' atas berita-berita utama yang dikabarkan dalam siklus berita-berita sebelumnya. Feature lebih menekankan pada aspek why dan how serta so what.
Features sering tentang bagaimana:
* Profil orang yang membuat berita
* Menjelaskan peristiwa-peristiwa yang menggerakkan atau membentuk berita
* Menganalisis apa yang sedang terjadi dalam dunia, negara, atau komunitas
* Mengajari audiens bagaimana melakukan sesuatu
* Menyaratkan cara-cara lebih baik untuk hidup
* Menguji kecenderungan-kecenderungan
Ada sejumlah perbedaan antara news dan feature. Namun, Sebagaimana ditekankan Bruce Itule & Douglas Anderson, dalam News Writing and Reporting for Today’s Media, 3rd. Edition, New York: McGraw-Hill, 1994, tidak ada garis pembedaan sangat tegas, terutama dalam media kontemporer sekarang ini. Banyak berita yang “difiturkan”.
Hasil pertandingan/perlombaan di Olimpiade sangat mungkin disampaikan sebagai hard news. Misalnya, “Anne Montmigny, dari Kanada, merebut medali emas kedua dalam renang indah.” Dalam media kontemporer, bisa jadi hard news itu disampaikan seperti feature. Misalnya; “Meski terbiasa berenang di sungai yang mengalir di belakang rumahnya, Anne Montmigny tak pernah bermimpi tampil di pentas dunia renang indah Olimpiade.” Upaya untuk memfiturkan news itu untuk mengakomodasi sisi manusiawi dari suatu berita. Maka, banyak perusahaan media yang memadukan itu untuk meraih audiens lebih luas.
Belakangan ini, media menggunakan banyak faktor untuk menentukan event-event apa yang akan diberitakan, antara lain;
* waktu
* keterdekatan
* dampak
* kepentingan tertentu audiens
* persaingan dengan media lain
* tujuan editorial
* hingga, pengaruh pemasang iklan.
Semua faktor ini memberikan 'tekanan' pada media untuk memberi audiens baik news maupun features. Feature bisa berdiri sendiri, atau berdampingan dengan news utama. Jika berdampingan, feature bisa memberi audiens informasi tambahan atas topik yang sama.
Ambil contoh; Saat ada kapal ferry tenggelam di perairan Yunani, itu harus disampaikan dalam bentuk hard news. Jika ada kabar selebriti Indonesia lolos dari bencana itu karena saat berwisata ia kecopetan tiket ferry itu, maka ini bisa dijadikan feature menarik.
Features tidak dimaksudkan untuk menyampaikan berita saat itu juga. Feature tetap berisi elemen-elemen berita, namun fungsi utamanya adalah memanusiakan, menambah warna, mendidik, menghibur menjelaskan, dan lain-lain. Feature lebih sering menjadi 'penjelasan' atas berita-berita utama yang dikabarkan dalam siklus berita-berita sebelumnya. Feature lebih menekankan pada aspek why dan how serta so what.
Features sering tentang bagaimana:
* Profil orang yang membuat berita
* Menjelaskan peristiwa-peristiwa yang menggerakkan atau membentuk berita
* Menganalisis apa yang sedang terjadi dalam dunia, negara, atau komunitas
* Mengajari audiens bagaimana melakukan sesuatu
* Menyaratkan cara-cara lebih baik untuk hidup
* Menguji kecenderungan-kecenderungan
Comments