Case Number 1
Joanne Kathleen Rowling berada di jurang kehancuran. Hidup jatuh miskin, keluarga berantakan, sampai-sampai ia harus hidup dari dana bantuan. Lalu, ia menulis kisah Harry Potter yang laris-manis terjual ke seluruh dunia. Hidupnya berobah –dari terlunta-lunta menjadi salah satu wanita terkaya. Bukan sihir Harry Potter yang menyebabkan perobahan itu, tapi kemampuan J.K. Rowling untuk menulis.
Case Number 2
Ernesto Guevara bersepeda motor keliling negara-negara Amerika Selatan. Ia melihat berbagai penderitaan, lalu mencatat semuanya di dalam buku harian. Penderitaan yang ia saksikan itu menggugahnya menjadi ‘Che’ si revolusioner terkemuka dunia. Tulisan-tulisan dalam ‘Motorcycle Diary‘ memberinya ilham untuk menumbangkan penjajahan dan penindasan.
Case Number 3
Vaclav Havel sasterawan, dramais, dan penulis di Cekoslovakia. Pada 1960-an, karya-karyanya mulai menyinggung politik kiri haluan kiri negerinya. Pada 1977, ia menuliskan manifesto HAM berjuluk Charter 77. Meski dijebloskan ke penjara, ide dan pemikirannya mengalir lewat berbagai tulisan. Saat terjadi ‘Velvet Revolution‘, ia pun diangkat menjadi presiden.
Case Number 4
Raden Ajeng Kartini putri berdarah biru aristokrat Jawa. Ia bisa menikmati pendidikan Belanda, namun dipaksa menikah dengan pria beristri tiga. Ia juga menyaksikan para wanita di zamannya tidak mendapat pendidikan layak. Lalu, ia rutin menulis surat pada teman-temannya di negeri Belanda mendiskusikan keadaan wanita di India Belanda. Lewat surat-surat yang dibukukan berjudul ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ ini, Kartini dihormati sebagai pelopor gerakan emansipasi wanita Indonesia.
******
Dari empat kasus di atas, saya ingin menggambarkan bahwa dengan menulis maka semua kemungkinan bisa kita capai. Dengan mengungkapkan fakta-fakta dan pemikiran lewat tulisan, kita bisa menjadi apa saja dan mendapatkan apa saja. Ini bukan omong doang karena sejumlah mahasiswa saya sudah membuktikannya.
Saya memberi pelatihan penulisan, memberi penugasan untuk mempublikasikan tulisan itu, dan hasilnya…. banyak tulisan mahasiswa saya yang dimuat di media cetak. Sebagian mendapat honor kontan, sebagian mendapat souvenir, namun ada juga yang mendapat telepon berisi kritikan. Di masa mendatang, prestasi sederhana ini mungkin bisa menjadi motivator atau batu pijakan mereka untuk berkarir dalam dunia tulis-menulis.
Namun, fakta membuktikan, menulis itu bukan perkara gampang. Orator jagoan pun kadang sulit menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan. Orang-orang top pun kadang terpaksa menyewa penulis profesional untuk menuliskan idenya. Seolah, melontarkan gagasan dari otak ke komputer sama rasanya dengan memindahkan gunung karang raksasa.
Banyak hal yang menghambat orang untuk bisa menulis dengan baik dan kemudian bisa diterima khalayak umum. Antara lain;
* Membuat kalimat pertama; ini sering kali menjadi penghambat awal.
* Menghentikan penulisan; ini menjadi hambatan akhir.
* Menggunakan bahasa yang baik dan benar; kadang juga sulit dicapai (banyak tulisan di media massa yang bahasnya keliru).
* Menata urutan logis; huh! ternyata ini sangat tidak gampang.
* Menyampaikan data dan ide dengan efisien; ini sulit.
* Memilih satu kata yang tepat di antara banyak alternatif kata; bukan perkara mudah.
* Menggunakan gaya bahasa yang ‘klik’ dengan pembaca; nah, ini tujuan menulis namun sulit dilakukan.
* Membuat tulisan masuk dan diterima pasar lalu bisa dinikmati banyak orang; wow, ini tantangan termenarik tapi berat.
* dan banyak lagi hambatan lainnya.
******
Nah, saya sudah berhubungan dengan bisnis tulis-menulis selama belasan tahun. Kalau masa belajar juga diikutkan, bisnis menulis saya mungkin lebih dari 20 tahun. Ini sebagian pengalaman saya;
- Bekerja menjadi wartawan untuk sejumlah media sejak 1991.
- Menjadi ghostwriter (menulis untuk orang lain) untuk beberapa buku.
- Menerjemahkan 15 buku.
- Menuliskan 4 buku berbagai tema.
- Membantu perorangan/lembaga membuat tulisan untuk dimuat di media umum.
- dan lain-lain.
Pada saat yang sama, saat ini saya juga mengajari mahasiswa terkait dengan mata kuliah jurnalistik. Saya juga bersama istri saat ini juga sedang mematangkan berdirinya ‘Rumah Belajar Bianglala’.
*****
Saya ingin sekali berbagi ilmu, pengetahuan, skill, dan pengalaman jurnalistik dan tulis-menulis ini dengan Anda. Namun, ada syaratnya;
* Saya ingin berbagi hanya pada 10 orang yang benar-benar ingin mendedikasikan sebagian besar hidup untuk aktivitas tulis-menulis. Dengan sedikit orang, yang saya bagikan bakal bisa lebih banyak sehingga hasilnya bakal lebih optimal.
* Saya tidak memberikan sarana fisik untuk kursus. Anda harus membekali diri sendiri untuk kursus ini (misalnya, laptop). Anda harus mengongkosi diri sendiri untuk kursus ini (misalnya, biaya observasi di lapangan). Segala kebutuhan kursus, Anda penuhi sendiri.
* Untuk saat ini, saya baru bisa memberikan kursus pada Anda yang tinggal di Surabaya atau mau datang ke Surabaya. Itu karena saya tinggal di Surabaya dan tempat kursusnya di rumah saya.
* Kursus ini gratis, alias tanpa bayar.
Jika berminat ingin meningkatkan skill menulis, jangan enggan untuk mengontak saya;
Tom Bapallaz
Rumah Belajar Bianglala
081332539032
cilukbha@gmail.com
Comments
nulis truz...pantang mundur!!
SEMANGAT!!!
terima kasih, pak Tom